Kuliah Studi Islam Bersama Sekretaris Jendral Kementerian Agama RI

Palu, Rabu 3 Juli 2019

Kajian studi islam selalu menjadi hal yang menarik bagi para akademis, dengan menggunakan berbagai pendekatan dalam ilmu metodologi, Islam dapat dipahami lebih luas dan terbuka.

Prof. Dr. Phil. H. Muhammad Nur kholis Setiawan, M.A. saat menyampaikan materi tentang pendekatan transdisipliner dan multidisipliner

Pascasarjana IAIN Palu menggelar kuliah tamu nasional untuk mahasiswa pascasarjana khususnya mahasiswa program doktoral. Kuliah tamu nasional ini mengangkat tema ” PENDEKATAN MULTIDISIPLINER DAN TRANSDISIPLINER DALAM STUDI ISLAM” dengan dosen tamu Prof. Dr. Phil. H. Muhammad Nur kholis Setiawan, M.A.

Lulusan Magister di Leiden University dan Doktor di Bonn University German ini, menyampaikan bahwa ada lima karakter yang melekat pada kajian islam;
Pertama, Keterbukaan.
Kedua, Limitasi atau batasan.
Ketiga, Nalar kritis.
Keempat, Dimensi moralitas.
Kelima, Dimensi kemanusiaan

“Ada beberapa literature yang menjadi sumber dari lima karakter tersebut yaitu, Tafsir Marah al-labid karya Imam nawawi albantani, Kitab al-Muwattah karya Imam Malik bin Anas dengan syarah Tanwir Al-Hawalik Syarh ‘Ala Muwattha Malik karya Imam Jalaluddin al-Suyuti, Kitab al-Manhalul Latif Fi Ushul al-Hadith al-Syarif karya sayyid Prof. Muhammad bin Alawi al-Maliki”.

tampak para dosen dan mahasiswa program doktor Pascasarjana IAIN Palu

Untuk karakter pertama, beliau menjelaskannya dengan merujuk dalam kitab Mizan al-kubra karya Imam Abdul Wahhab Sya’rani jilid dua menjelaskan tentang Umar bin abdul aziz, bahwa Umar berkata “apabila kalian melihat sebuah komunitas / kelompok yang berdiskusi secara sembunyi-bunyi dari orang lain, yang didiskusikan adalah permasalahan agama, maka wasapadalah kelompok tersebut adalah kelompok sesat”.

Jadi prinsip dasar pemikiran islam adalah keterbukaan, tidak ada dalam sejarah islam itu kajian yang sembunyi-sembunyi.

diakhir materinya beliau menekankan tentang moralitas.

“Intelektualitas tidak pernah lepas dari moralitas. Seiring berkembangnya intelektual harus berkembang pula moralitas”.

Share this

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *