Antara Alquran, Dzikir dan Imunitas

Salah satu cara untuk menghindari terjangkitnya virus korona adalah dengan meningkatkan daya imunitas tubuh. Banyak pendekatan yang diambil untuk melakukan upaya ini, seperti pendekatan medis. Banyak masyarakat mengkonsumsi vitamin dan obat-obatan, baik kimia atau herbal, untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Namun, ada pendekatan yang perlu juga kita pertimbangkan, yaitu pendekatan spiritual (spiritual approach). Pendekatan spiritual ini akarnya adalah pesan-pesan yang diambil  dari teks-teks Islam dasar, seperti Alquran dan Hadis Nabi Muhammad Saw. Lalu apa kata Alquran tentang masalah ini.

Ada satu ayat dalam Alquran yang sangat populer, surat al-Ra’d ayat 28, yang berbunyi:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Orang-orang beriman dan hatinya tenang dengan berdzikir kepada Allah. Ketahuilah dengan dzikir kepada Allah, hati akan menjadi tenang”

Ayat ini menjelaskan tiga konsep penting, yaitu iman, dzikir, dan ketenangan hati. Iman menjadi daya dorong untuk melakukan dzikir, dan dzikir pada gilirannya akan memunculkan ketenangan hati.

Praktik dzikir mencakup dua hal:

Pertama, menyebut nama-nama Allah dengan lisan

Yang paling populer dalam dunia Islam adalah menyebut nama-nama Allah yang baik, atau disebut al-asmā’ al-ḥusnā. Alquran sendiri menganjurkan umat Islam untuk berdoa dengan menyebut al-asmā’ al-ḥusnā (QS Al-A‘rāf: 180; al-Isrā’: 110). Karena menjadi syariat, tentu banyak manfaat yang dapat dipetik dari syariat dzikir dengan al-asmā’ al-ḥusnā. Seperti dikutip dalam sebuah kitab Khawwāṣ al-Asmā’ al-Ḥusnā li al-Tadāwī wa Qaḍā’ al-Ḥājāt, yang ditulis oleh Muḥammad bin ‘Alwī al-‘Aydrūs, Syaikh Ṣāliḥ al-Ja‘farī berkata:

فَالَّذِي يَدْعُو بِهَا فَقَدِ اسْتَجْلَبَ الْخَيْرَ كُلَّهُ لِنَفْسِهِ وَجَعَلَ الْوِقَايَةَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الشَّرِّ كُلِّهِ، فَإِذَا قُلْتَ مَثَلًا الرَّحْمنُ الرَّحِيْمُ فَقَدِ اسْتَجْلَبْتَ الرَّحْمَةَ، وَإِذَا قُلْتَ: اللَّطِيْفُ فَقَدِ اسْتَجْلَبْتَ اللُّطْفَ… الخ

“Orang yang berdoa dengan al-asmā’ al-ḥusnā maka telah meminta kebaikan seluruhnya, dan membuat pencegahan di antara dirinya dan keburukan seluruhnya. Jadi apabila engkau menyebut al-Raḥmān al-Raḥīm, maka kamu telah meminta rahmat, dan jika kamu menyebut al-Laṭīf, maka kamu telah meminta kelembutan, dan seterusnya.”

Atau membaca wirid, hizib, atau ratib, yang di dalamnya terdapat doa-doa dari Rasulullah Saw dan nama-nama Allah yang baik (al-asmā’ al-ḥusnā). Wirid, hizb dan ratib disusun oleh para ulama sufi yang dikenal berpengaruh dalam masyarakat Islam. Di antara ratib yang ditulis oleh para ulama-habaib adalah Rātib al-Ḥaddād, Rātib al-‘Aṭṭāṣ, Rātib Sakrān, dan lainnya. Rātib al-Ḥaddād, misalnya, yang banyak dibaca oleh masyarakat Muslim Indonesia, dan terbukti luas mempunyai banyak manfaat besar untuk kebaikan umat Islam.

Ada satu cerita menarik yang diceritakan oleh Kiai Azaim pada suatu acara perkumpulan alumni Sukorejo yang membaca Ratibul Haddad di desa Curah Jeru kecamatan Panji, Situbondo pada 15 Mei 2017 lalu. Keponakan Kiai As’ad ini menuturkan, di daerah salah satu alumni asal Lumajang tersebut suatu waktu dipenuhi dengan kemaksiatan dan kemungkaran, seperti perjudian, pelacuran, dan narkoba.

Akhirnya, masyarakat pun sangat resah dengan apa yang sedang terjadi di lingkungannya, termasuk salah satu alumni Sukorejo tersebut. Hingga akhirnya ia berinisiatif untuk istiqomah membaca wirid Ratibul Haddad yang menjadi bacaan wajib di pesantren tempat dulu ia menimba ilmu agama.

Saat membacanya, tak lupa ia menyelipkan niat memberantas kemaksiatan di daerahnya. Setelah istiqomah membacanya, atas kuasa Allah banyak toko atau warung yang dijadikan tempat transaksi narkoba, pelacuran dan perjudian tersebut yang akhirnya ditutup.  

Kedua, membaca Alquran

Kata “dzikr” dalam surat al-Ra’d ayat 28, menurut Ibn al-Qayyim, adalah Alquran.  Kata beliau,

Dzikrullah itu adalah Alquran yang telah Allah turunkan kepada Rasul-Nya, dengannya akan tenang hati orang yang beriman, karena hati tidak akan tenang kecuali dengan iman dan yakin. Dan tidak ada jalan untuk memperoleh keimanan dan keyakinan kecuali dengan Alquran

Apakah ada korelasi yang erat antara dzikir dengan imunitas. Salah satu informasi berikut dapat membuktikan pernyataan ini. Dr. Ahmad al-Qadri, seorang ahli penyakit jantung dan Direktur Lembaga Penelitian dan Pendidikan Kedokteran Islam di Amerika, menyatakan bahwa mendengarkan atau membaca Alquran mampu menimbulkan ketenangan jiwa yang menyebabkan peningkatan daya imunitas tubuh melawan serangan penyakit. Kesimpulan tersebut disampaikan dalam sebuah konferensi setelah mengadakan riset lapangan terhadap  210 pasien sukarela yang dibarengi dengan membaca Alquran atau memperdengarkannya. Ternyata 77 % dari sampel acak yang terdiri dari muslim dan non-muslim tersebut menampakkan adanya gejala pengenduran syaraf yang tegang. Semua gejala tadi direkam dengan alat pendeteksi elektronik yang dilengkapi dengan komputer untuk mengukur setiap perubahan yang terjadi dalam tubuh selama pengobatan. Menurutnya, berkurangnya ketegangan saraf ini mampu mengaktifkan dan meningkatkan daya imunitas tubuh dan memperoleh proses kesembuhan pasien.**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *