Arab Hadrami di Tanah Kaili

Istilah “Arab Hadrami” umumnya mengarah kepada orang-orang yang datang dari Hadramaut dengan berbagai strata sosialnya, baik yang berasal dari kelompok sayyid, masāyīkh, qabā’il, ḍu’afā, atau lainnya. Wilayah Hadramaut adalah sebuah provinsi terbesar yang berada di negara Yaman, Timur Tengah. Karena berbagai alasan, baik itu alasan politik, ekonomi, dan lainnya, banyak orang dari wilayah ini melakukan migrasi besar-besaran ke berbagai wilayah di dunia, terutama India dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Migrasi orang-orang Hadrami ke Indonesia telah diketahui secara luas, dan peran mereka dalam sosial, politik dan keagamaan pun dapat dikatakan signifikan. Bahkan, dapat dikatakan pula bahwa tersebarnya Islam di Nusantara tidak terlepas dari peran dan jasa kaum Alawi (sayyid). Sebagai contoh, Walisanga yang berperan besar dalam penyebaran Islam di Nusantara dikabarkan merupakan keturunan dari Rasulullah Saw.[1] Beberapa tokoh pahlawan di Indonesia seperti Imam Bonjol (1772-1864), Fatahillah pendiri kota Jakarta, merupakan golongan sayyid (keturunan Rasulullah Saw).  

Migrasi juga menyebar ke wilayah Timur Indonesia, seperti Sulawesi Tengah. Lebih khusus lagi, menyebar ke Palu yang dikenal sebagai Tanah Kaili. Bagaimana dan kapan kedatangan mereka ke wilayah ini merupakan pertanyaan yang akan dibahas dalam bab ini. Untuk memudahkan pemahaman, maka terlabih dahulu perlu diberikan ulasan singkat tentang profil Hadramaut baik dari sudut geografis maupun sosial-demografis.

HADRAMAUT: LATARBELAKANG GEOGRAFIS DAN SOSIAL

Profil Wilayah
Asal mula nama Hadramaut masih menjadi perdebatan. Menurut legenda yang populer, nama Hadramaut berasal dari seorang tokoh yang bernama Hadramaut. Sayangnya tidak ditemukan informasi tentang sosok legendaris tersebut. Penduduk setempat meyakini bahwa Hadramaut adalah keturunan Yakrub ibn Qathan ibn Hud. Ia berasal dari Arab Selatan atau Arab asli yang dipertentangkan dengan ras Arab Utara—Arab keturunan. Dalam bahasa Ibrani, wilayah itu disebut Havermavt. Dalam Al-Kitab (Kejadian, 10: 26-28), wilayah itu disebut Hazarmaveth. Hadramaut adalah negeri asal dan tempat tinggal Nabi Hud dan Saleh.[2]

Daerah Hadramaut sekarang berada di antara Oman dan Yaman. Dan sekarang merupakan nama dari provinsi terbesar di Yaman. Wilayah ini terbagi ke dalam tiga bagian. Pertama, wilayah pantai dengan kota-kota pelabuhan yang penting, termasuk al-Mukhalla, al-Shihr, Sayhut, al-Qis}n, dan Mirbat, yang membentuk pintu masuk ke Samudera India. Wilayah pantai ini mempunyai iklim yang menantang dengan curah hujan yang jarang dan tidak teratur, dan hari-hari yang sangat panas.[3]

Kedua, lembah pedalaman, yang merupakan wilayah hunian yang paling penting dan paling padat, dan menjadi tempat bagi kota-kota terkenal seperti Shibam dan Tarim (pusat belajar tua yang terkenal).[4] Tarim dikenal sebagai penghasil ulama-ulama terkemuka bermazhab Syafi’i. Para ulama Yaman bermigrasi untuk melakukan dakwah ke berbagai pelosok dunia,[5] termasuk Indonesia, dan memperkenalkan Islam dengan cara dan metode yang sangat baik (bi al-hikmah wa al-maw‘izah al-hasanah), tanpa kekerasan, sehingga masyarakat dapat merasakan ajaran Islam yang sesungguhnya, dan pada akhirnya Islam dapat diterima oleh semua golongan. Oleh karena itu, banyak dari ulama di Indonesia merupakan lulusan dari guru-guru yang berasal dari Tarim ini. Saat ini, banyak pelajar dan mahasiswa Indonesia yang menimba ilmu di kota ini. Di Tarim sendiri terdapat tiga pusat ilmu dakwah yang terkenal di dunia, yaitu Rubāt Tarīm, Dār al-Mustafā, Dār al-Zahrā untuk kaum perempuan, dan Universitas al-Ahqāf, yang meskipun berpusat di Mukhalla, namun mempunyai cabangnya di Tarim. Ketiga pusat ilmu ini telah memberikan kontribusi yang sangat besar dalam melahirkan kader-kader ulama tradisional di Indonesia.

Luas lembah Hadramaut menjadi hal langka di dunia. Karena biasanya lembah itu tidak begitu luas. Namun lain halnya dengan lembah ini. Kedalamannya mencapi 200 m dari permukaan dataran tinggi dan menurun ke bawah secara bertahap atau tidak curam. Tekstur seperti ini mengakibatkan air mengalir secara perlahan dan terserap. Pertanian bergantung pada banjir yang tidak sering, dan pertanian dapat dilakukan melalui sistem kanal irigasi.

Ketiga, wilayah pegunungan yang bebatuan, yang dibagi ke dalam dua dataran tinggi yang merupakan 90 persen wilayah Hadramaut. Dataran tinggi sebelah selatan terdiri dari campuran antara padang pasir dan wilayah semi padang pasir, yang terakhir ini tidak cukup untuk tempat tinggal manusia. Bagian wilayah gunung ini, selain sebagai rumah bagi sejumlah besar masyarakat suku, juga menjadi rute perjalanan ke pelabuhan-pelabuhan.[6] Aktivitas pertanian di daerah ini sangat terbatas. Hal ini disebabkan oleh minimnya tanah yang layak untuk bercocok tanam dan kurangnya kadar air. Maka, mata pencarian penduduk ini adalah berternak.

Kondisi-kondisi geografis seperti inilah—ditambah dengan persoalan ekonomi dan konflik antar suku yang terjadi di wilayah tersebut serta perang dengan kelompok Wahabi—yang kemudian, menurut sebagian sejarawan, menjadi faktor yang mendorong terjadinya migrasi orang-orang Hadrami ke seluruh dunia, terutama India dan Asia Tenggara.[7]

Stratifikasi sosial
Masyarakat Hadramaut adalah masyarakat yang secara sosial berstrata. Kelompok yang menempati strata yang tertinggi adalah sādah atau habā’ib, sayyid, atau syed. Kelompok ini merupakan keturunan dari Nabi Muhammad Saw, dan tidak mempunyai kekuatan militer. Namun demikian, mereka sangat dihormati dalam posisinya sebagai penengah (arbitrator) dalam konflik-konflik yang terjadi antar suku dan juga pemimpin dalam pendidikan agama. Selain itu, mereka dalam berbagai hal dikenal mempunyai aset-aset ekonomi yang penting dan terlibat dalam berbagai aktivitas perdagangan, dan menerima hadiah-hadiah yang diberikan kepada pemimpin agama dan orang-orang saleh, dan mengontrol tanah-tanah wakaf yang diberikan kepada organisasi-organisasi agama.

Kelompok kedua adalah masāyīkh dan qabā’il. Kelompok masāyikh ini terdiri dari para intelektual, sarjana, bangsawan dan kepala suku. Biasanya marga mereka adalah bin Mahfūz, bin Lādin, bin Zagar, al-‘Amūdi>. Pada awalnya, masāyīkh memegang kepemimpinan keagamaan, namun kemudian terpinggirkan oleh kedatangan kelompok sayyid. Meskipun demikian, mereka tetap dihormati karena mempunyai kebaikan secara turun menurun. Keturunannya melanjutkan peran keagamaan yang sama meskipun posisinya lebih rendah daripada kelompok sayyid. Mengingat mereka mempunyai status sosial yang signifikan di Hadramaut, maka setiap diselenggarakan upacara keagamaan, mereka selalu memimpin acaranya.

Sementara itu, qabā’il mempunyai status sosial yang sama dengan masāyikh, namun mempunyai peran sosial yang berbeda. Kata qabā’il, merupakan jamak dari qabā’il yang berarti “suku”, membentuk kelas dominan dan terdiri dari semua laki-laki dewasa. Suku-suku ini hidup berkelompok dalam keluarga (fakhīlah) secara terpisah yang terdiri dari beberapa cabang (jamā‛ah). Para anggota suku disebut qabīlī. Dengan demikian, jumlah anggota setiap suku atau setiap keluarga akan sangat berbeda. Ada keluarga yang beranggotakan 50 orang dan apa yang pula yang beranggotakan 200 laki-laki dewasa. Bahkan ada suku-suku yang secara keseluruhan tidak melampaui jumlah anggota suatu keluarga di dalam suku lain.[8] Kepala suku disebut muqaddam, sedangkan kepala keluarga atau cabang disebut Abū. Para pemimpin adalah penguasa daerah yang tinggal di puri.

Kelompok qabā’il merupakan suku bangsa yang kompetitif yang menduduki dan menawasi sebagian besar daerah pedalaman, membawa senjata, dan dianggap kurang saleh. Kehormatan qabā’il selali dihubungkan dengan kemampuan mengangkat senjata, mempertahankan diri, dan ketergantungan seseorang kepada mereka, seperti al-Katiri dan al-Queti.

Kelompok ketiga adalah masākīn. Kelompok ini merupakan kumpulan dari orang-orang yang tidak mampu, seperti pedagang, pengrajin, buruh, petani dan seniman. Dan, yang keempat adalah kelompok budak, yang biasanya mereka berasal Afrika. Para budak sering menjadi pekerja yang tertindas dan berada pada posisi yang lemah, sehingga eksploitasi terhadap golongan ini dalam bentuk kerja paksa sering kali terjadi.

Di Indonesia, kelompok masyarakat Arab Hadrami dapat dimasukkan pula ke dalam dua kategori sosial, yaitu wulaiti (wulāyatī) dan muwallad. Kata wulaiti berarti “Arab totok, berdarah murni” yang lahir di negeri Arab. Mereka ini adalah generasi pertama, yang pada masa awal jumlahnya sangat banyak, namun saat ini dapat dikatakan sangat sedikit. Wulaiti dapat dibedakan dalam dua pilihan, yaitu mereka yang dilahirkan di tanah leluhur dan baru setelah remaja atau dewasa datang ke Indonesia, dan mereka yang dilahirkan di tanah leluhur tapi semenjak kanak-kanak dibawa dan dibesarkan di tempat pengembaraan, yaitu Indonesia. Mereka mempunyai sifat-sifat Hadramaut yang sangat tebal serta nampak dalam setiap tindakan dan tarikan nafas mereka. Alam Hadramaut yang panas dan gersang membuat mereka bersifat keras dan berdarah panas. Mereka mudah marah dan mudah pula berubah menjadi pemaaf sebagaimana pergantian suhu udara di Hadramaut.[9]

Sementara itu, kata muwallad yang secara kebahasaan berarti “dilahirkan” mengarah kepada “orang Arab Hadrami yang berdarah campuran, karena sebagian ibunya adalah orang Indonesia asli.” Muwallad semenjak kecilnya sudah dimanjakan oleh alam Indonesia yang beriklim relatif lebih sejuk dan nyaman, dengan tanah yang subur dan air yang melimpah, sehingga membuat mereka mempunyai karakter yang berbeda dengan wulaiti yang keras. Untuk itu, banyak orang tua Hadrami mengirimkan anak-anaknya (muwallad) untuk melihat negeri leluhur dan agar mendapatkan pendidikan sebagaimana mestinya. Hadramaut yang menjadi tempat yang sesuai bagi pendidikan muwallad. Setelah mendapatkan pendidikan di Hadramaut, mereka diharapkan menjadi orang yang bersifan jantan, pantang mengeluh, senang dengan gaya hidup sederhana, baik dalam pakaian maupun perilakunya.[10]

KEMUNCULAN ARAB HADRAMI DI INDONESIA
Ada perdebatan di kalangan para ilmuan dan sejarawan terkait dengan kedatangan orang-orang Arab ke Nusantara (Indonesia). C. Snouck Hurgronje, misalnya, mengatakan bahwa dalam buku-buku sejarah tidak ada bukti bahwa orang-orang Arab mempunyai pengetahuan tentang Indonesia.[11] Ia menyimpulkan bahwa selama empat abad pemimpin keagamaan Islam di Indonesia berada di tangan orang India; dan pada abad ke-16, bahasa Arab masuk ke Indonesia melalui dua jalan melalui dua jalan, Hadramaut dan Mekkah. Ia tidak percaya ada hubungan dagang antara Indonesia dan negara-negara Arab selama berabad-abad yang lalu, dan segala sesuatu yang datang dari negara-negara Arab ke Indonesia melalui India. Singkatnya, informasi penting yang disampaikan oleh Hurgronye adalah bahwa keadatangan orang-orang Arab di Nusantara pada abad ke-16.[12]

Berbeda dengan Hurgronye, Ricklefs berpendapat bahwa lama sebelum abad ke-16, orang-orang Arab sudah datang dan menetap di Nusantara. Menurutnya, ada beberapa fakta sejarah yang mendukung asumsi ini. Di antaranya adalah ditemukannya satu makam di Leran, Gresik, Jawa Timur. Tulisan Arab terdapat pada batu nisan seorang perempuan yang bernama Fatimah binti Maimu bin Hibatullah, yang meninggal pada tahun 475 H atau 1082 M.[13] Terlepas dari berbagai perbedaan pendapat mengenai waktu kedatangan orang-orang Arab datang ke Nusantara, tetapi para pakar setuju bahwa orang-orang Arab yang tinggal di Nusantara kurang lebih berasal dari Hadramaut.[14]

Orang-orang Arab Hadrami melakukan migrasi besar-besaran pada pertengahan abad ke-18. Migrasi dalam jumlah besar ini terjadi terutama setelah ditemukan mesin uap dan pembukaan Terusan Suez pada tahun 1869. Yang menjadi destinasi utama migrasi mereka adalah India, kemudian Asia Tenggara selama abad ke-19.[15] Menurut Lekon,[16] pada tahun 1930-an, terdapat 110,000 orang Arab Hadrami yang tinggal di diaspora. Jumlah tersebut mencakup 20 sampai 30 persen dari jumlah keseluruhan penduduk di wilayah Hadramaut. Dari jumlah ini, tidak kurang dari 90.000 orang Hadrami yang tinggal dan menetap di Nusantara.

Di India, seperti Gujarat dan Deccan, sebagian orang-orang Hadrami yang berstrata sosial sayyid dekat dengan dinasti-dinasti yang berkuasa dan menerima berbagai pemberian. Di Malabar, beberapa dari mereka bahkan terjun dalam dunia politik dan bisnis, sedangkan di Hyderabad dan Pakistan, sebagian malah masuk ke dalam angkata bersenjata atau tentara. Sebagian dari mereka ada yang tetap kukuh dalam dakwah agama dan moral seperti yang dicontohkan oleh tarekat Aydarusiyyah.[17]

Sementara itu, kedatangan orang-orang Hadrami di Asia Tenggara pada dasarnya dimotivasi oleh berbagai faktor yang berbeda. Ada yang didasari pada pencarian peluang ekonomi baru, terutama dalam penjualan rempah-rempah, kemudian dalam tekstil dan real estate, terutama di wilayah Penang dan Singapura, Sebagian ada yang datang sebagai mubalig dan menyebarkan ajaran agama Islam kepada penduduk lokal. Sebagian mereka ada yang menjadi mufti, kadi dan imam bagi masyarakat tersebut.

Di Indonesia, menurut Husein Haikal,[18] beberapa alasan yang mendorong terjadinya migrasi ini adalah adanya stratifikasi sosial yang relatif pincang, keadaan geografis Hadramaut yang tidak mampu penunjang kehidupan penduduknya, dan kelaparan yang selalu rutin melanda penduduknya. Semua ini memyebabkan penduduk Hadramaut hijrah untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Secara geografis, Hadramaut sebagian besar terdiri dari padang pasir yang luas dan tandus, dan dikelilingi oleh pegunungan yang bebatuan, ditambah pula dengan jarangnya turun hujan. Selain itu, banyak dari orang Arab Hadramaut migrasi ke Nusantara untuk menemui keluarga mereka yang sudah menetap di Nusantara atau hanya untuk mencari pekerjaan dalam perusahaan keluarga mereka yang berada di Nusantara. Tentu saja, kedatangan mereka disambut baik oleh keluarga mereka di Nusantara dengan harapan mereka membawa berita dan informasi tentang sanak keluarga mereka yang masih tinggal di Hadramaut.

Faktor lain adalah adanya kolonialisme Inggris di Hadramaut. Hadramaut dijajah oleh Inggris yang pada saat itu sudah menguasai India. Dengan mudah tentara Inggris masuk ke Hadramaut yang menganggapnya sebagai daerah potensial untuk perdagangan internasional. Masuknya Inggris membawa bencana bagi Hadramaut, dengan terjadinya perang melawan Inggris, selain konflik antara dua kerajaan di Hadramaut—Queyti dan Katiri—yang tidak pernah selesai. Dan ini mendorong orang-orang Arab Hadramaut bermigrasi untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Mereka datang ke wilayah-wilayah yang dilaluinya melalui jalur perdagangan internasional, termasuk bandar-bandar di sepanjang pantai di seluruh Indonesia. Mereka menetap di wilayah pantai, dan baru kemudian pindah ke pedalaman. Daerah yang semula mereka tuju adalah daerah yang memungkinkan mereka mengumpulkan bahan dagang baru, atau memungkinkan mereka menjual barang dagangan mereka, atau setidaknya daerah tersebut memberi kesempatan kepada mereka untuk mengisi perbekalan untuk kapal-kapal dagang mereka.

Proses perjalanan dari Hadramaut ke Nusantara berlangsung berbulan-bulan. Perjalanan orang-orang Arab pertama harus berangkat dari al-Mukhalla atau al Shihrmenuju Bombay, lalu ke pulau Ceilon (Srilangka), untuk selanjutnya menuju Aceh atau Singapura. Perjalanan yang dilakukan menggunakan kapal layar. Orang-orang Arab yang kaya berangkat ke Indonesia melalui Aden dan langsung menuju Singapura dengan kapal uap milik orang-orang Eropa yang melayari rute Aden—Singapura, sehingga dengan mudah menuju Indonesia.[19]

Daerah tujuan pertama orang-orang Arab adalah Aceh dan Singapura, untuk selanjutnya menyebar ke Pontianak, Palembang, dan Jawa. Orang-orang Arab mulai menetap di Jawa pada tahun 1830-an, dan tiba di Indonesia bagian timur sekitar tahun 1870. Pendudukan Singapura oleh Inggris tahun 1819 dan kemajuan besar dalam bidang perdagangan negara itu membuat kota itu menggantikan kedudukan Aceh sebagai daerah tujuan utama para imigran bangsa Arab. Sejak pembukaan pelayaran kapal uap jalur antara Singapura dan Arab tahun 1860-an posisi Aceh tidak lagi menjadi tujuan utama orang-orang Arab.[20] Di Jawa, terdapat enam pemukiman besar orang-orang Arab, yaitu Batavia,
Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang, dan Surabaya. Pemukiman orang-orang
Arab di Surabaya pada awalnya merupakan orang-orang yang melakukan migrasi
dari Gresik.[21] Orang-orang Arab itu selanjutnya mendirikan pemukiman di kota Surabaya setelah usaha pelayarannya mengalami kemunduran. Keturunan campuran orang-orang Arab hidup miskin, sehingga memilih menetap di Surabaya. Pemukiman orang-orang Arab di Surabaya merupakan pemukiman terbesar dan menjadi pusat dari semua pemukiman di pulau Jawa, khususnya di Jawa Timur.

Selanjutnya, pada awal abad ke 20, salah satu perkembangan penting dalam diaspora Asia Tenggara adalah pendirian lembaga-lembaga yang peduli pada pendidikan anak-anak muda Hadrami. Pada tahun 1901, komunitas Hadrami di Nusantara mendirikan lembaga Jamiat Kheir (jam‛iyyat al-khayr) dengan tujuan untuk mendirikan sekolah-sekolah Arab modern dan memperkuat identitas Arab. Para sponsor gerakan ini dapat dikatakan berasal dari keluarga bin Sahab dan bin Yahya. Kedua fam ini berasal dari golongan sayyid, namun bukan merupakan fam yang terpandang. Meskipun organisasi ini didirikan oleh tokoh-tokoh Arab-Indonesia dan diperuntukkan untuk golongan mereka sendiri, namun organisasi ini terbuka bagi orang-orang Indonesia lainnya. Beberapa orang Indonesia yang cukup terkemuka, seperti Hasan Djajadiningra dan KH. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) pernah menjadi anggota.

Sementara itu, orang Arab Hadramaut yang non-sayyid mulai banyak tampil ke depan. Pada tahun 1914, Ahmad Surkati, yang mengundurkan diri dari mengajar di Jamiat Kheir karena satu persoalan yang akan dibahas berikutnya, mendirikan sekolah yang bernama Al-Irsyad, yang dibantu oleh Syekh Manggus dan sahabat-sahabatnya dalam mempersiapkan sarana dan prasarananya. Sekolah itu resminya berada di daerah Jati Petamburan, dan dibuka untuk pertama kali pada hari Ahad tanggal 6 September 1914 atau 15 Syawal 1332 H. Untuk menunjang kelestarian sekolah tersebut dalam segi pengelolaan dan pembiayaan, maka  sebuah organisasi didirikan, yang bernama al-Jam‛iyyah al-Islāh wa al-Irshād al-‘Arabiyyah (yang kemudian disebut Al-Irsyad).[22] Sejak berdirinya Al-Irsyad, sampai akhir hayatnya, Syekh Ahmad Surkati merupakan jiwa dan pengayom Al-Irsyad. Dalam setiap kerja besar Al-Irsyad, atau dalam kemelut yang menimpa Al-Irsyad, selama hidupnya Syekh Ahmad Surkati selalu memegang peranan yang menentukan. Setiap ada kesulitan yang muncul, baik di pusat maupun di cabang, terkait persoalan yang sangat penting, maka kata akhir Syekh Ahmad Surkati selalu menjadi keputusan akhir.

Mengapa Syekh Ahmad Surkati mengundurkan diri dari mengajar di Jamiat Kheir? Jawabannya adalah perbedaan pendapat dan ketegangan yang terjadi antara kelompok ‘Alawī dan Irsyadī tentang persoalan kafā’ah (kesesuaian) dalam pernikahan. Yaitu, apakah perempuan bergelar sharīfah boleh menikah dengan rakyat biasa atau tidak? Jawaban mereka adalah bahwa pernikahan mereka dianggap tidak sah, karena salah satu syarat sahnya perkawinan adalah adanya kafā’ah antara kedua mempelai. Jika syarat ini tidak terpenuhi, maka perkawinan dianggap batal atau tidak sah.

Perdebatan ini muncul pertama kali ketika Ahmad Surkati berkunjung ke Solo, tepatnya dalam suatu pertemuan di kediaman Al-Hamid dari keluarga Al-Azami. Pada saat menjamu Surkati ini, terjadi pembicaraan tentang nasih seorang sharīfah yang karena tekanan ekonomi terpaksa hidup bersama seorang China di Solo. Surkati menyarankan agar dicarikan dana secukupnya untuk memisahkan kedua orang yang berzina tersebut. Alternatif lain yang diajukan oleh Surkati adalah dicarikan seorang muslim yang ikhlas menikahi secara sah sharīfah tersebut agar ia dapat terlepas dari gelimang dosa. Salah seorang yang hadir, Umar bin Said Sungkar, bertanya kepada Surkati, “Apakah yang demikian diperbolehkan menurut ajaran hukum Islam, sementara ada hukum yang mengharamkan karena tidak memenuhi syarat kafā’ah, meskipun syarat-syarat lainnya sudah terpenuhi?”

Setelah Surkati mengeluarkan fatwa, yang terkenal dengan sebutan “fatwa Solo”, tentang sahnya pernikahan yang tidak se-kafā’ah tersebut, terjadilah keguncangan di kalangan masyarakat Arab golongan Alawi yang dianggap sebagai penghinaan besar terhadap kelompok mereka. Mereka menuntut agar Surkati segera mencabut fatwanya, namun ia menolak dan tetap menghargai pendapat publik baik yang menolak atau yang setuju dengannya. Akibat mengeluarkan fatwa tersebut, pada tahun 1914, Ahmad Surkati dikeluarkan dari Jamiat Kheir.

Namun, sebelum peristiwa yang mengantarkan kepada konflik yang terbuka tersebut terjadi, komunitas Hadrami di Timur Jauh telah berada dalam ketegangan. Orang-orang Arab Hadrami yang bukan sayid tidak suka dengan kekukuhan kelompok sayyid untuk mempertahankan status dan peran mereka dalam komunitas Timur Jauh, seperti yang telah ditentukan dalam struktur sosial Hadramaut itu sendiri. Sebagian mereka pada khususnya bersikap dingin dengan aturan perkawinan yang menyimbolkan sistem stratifikasi tertutup dari masyarakat Hadrami—sebuah sistem yang memberikan kekuasaan dan status yang lebih tinggi kepada kelompok sayyid dan menempatkan non-sayyid kepada status yang lebih rendah.[23]

Pada tahun 1905, seorang perempuan sharīfah (dari keturunan sayyid) menikah seorang laki-laki India Muslim dengan persetujuan dari orang tua perempuan. Seorang Hadrami kemudian menulis ke Jurnal Al-Manār di Kairo, bertanya tentang kehalalan dan keharaman perkawinan tersebut. Editor jurnal tersebut mengeluarkan fatwa bahwa perkawinan itu halal atau boleh dan mempublikasikan jawaban tersebut. Fatwa ini memunculkan kontroversi di kalangan masyarakat Hadrami karena dalam masyarakat mereka perkawinan tersebut selalu dianggap haram atau tidak boleh. Kelompok sayyid,yang mempertahankan penafsiran aturan pernikahan tersebut, marah terhadap fatwa dari Kairo tersebut. Seorang ulama Hadrami terkenal saat itu, Sayyid ‘Umar al-‘Attās, mengeluarkan fatwa haram terhadap perkawinan tersebut. Fatwa ini dicetak dan disebarluaskan. Argumennya adalah perkawinan tersebut melanggar aturan kafā’ah. Menurut al-‘Attās, kriteria mendasar dari kafā’ah adalah nasab (keturunan) dan ini mempunyai empat tingkatan, yaitu

  1. Perempuan Arab tidak dapat menikah dengan laki-laki non-Arab;
  2. Perempuan Quraysh (dari suku Nabi) tidak dapat menikah dengan laki-laki non-Quraysh;
  3. Perempuan Hāshimī (dari garis keturunan Nabi) tidak dapat menikah dengan laki-laki non-Hāshimī;
  4. Perempuan dari keturunan Hasan dan Husain (dua putera Fatimah, puteri Nabi) tidak dapat menikah dengan laki-laki Hāshimī. Dan orang-orang sayyid Hadrami mengklaim sebagai keturunan Husain.[24]

Pada perkembangan selanjutnya, terutama pada era kemerdekaan, sedikit dari peranakan Hadrami terlibat dalam kegiatan politik. Salah satu yang mungkin dicatat dalam sejarah adalah Abdul Rahman Baswedan (1908–1986). Ia pernah menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) yang didirikan oleh Sukarno pada tanggal 19 Agustus 1945. Komite ini terdiri dari kaum nasionalis Indonesia yang terkenal dan pemimpin-pemimpin dari kelompok-kelompok etnik, agama, sosial, dan ekonomi yang penting di Indonesia. Pada awalnya, ia hanya merupakan lembaga penasehat, namun setelah beberapa bulan, berubah menjadi parlemen yang mempunyai kekuatan legislatif dengan presiden. Satu tahun kemudian, ia menjadi wakil Menteri Informasi di era pemerintahan Muhammad Natsir dalam Kabinet Syahrir yang ke-3 yang berkuasa dari Oktober 1946 sampai dengan Juli 1947.[25] Baswedan merupakan representatif dari minoritas peranakan Hadrami yang terlibat dalam aktivitas politik.

Pada perkembangan terkini dapat terlihat bahwa orang-orang Arab Hadrami melakukan berbagai penyesuaian dalam berbagai aspek kehidupan. Sebagian ada yang terjun dalam bidang ekonomi dan menjadi pengusaha yang sukses. Sebagian dari mereka yang ada masuk ke dunia politik, dan sebagian yang lain tetap terlibat dalam dunia dakwah dan bahkan mendirikan berbagai lembaga pendidikan dan pesantren.

KEMUNCULAN ARAB HADRAMI DI TANAH KAILI
Tidak ada data yang jelas dan pasti yang menggambarkan tentang kapan datangnya orang-orang Arab Hadrami ke tanah Kaili. Namun informasi yang diperoleh dapat memberikan sedikit gambaran bahwa kedatangan orang-orang Arab Hadrami adalah pada pertengahan abad ke 19, khususnya di Pantai Barat Sulawesi Tengah. Mereka tepatnya menetap di kota kecil pelabuhan Donggala, yang kemudian menjadi kota perdagangan penting. Di era kolonialisme, mereka pindah ke wilayah dekat Palu dalam jumlah yang besar, dan juga setelah kemerdekaan Indonesia.

Orang-orang Arab Hadrami datang ke Sulawesi Tengah diperkirakan pada abad ke-18 dalam jumlah kecil. Mereka yang pertama kali masuk ke lembah Palu, tepatnya di Wani, sekitar 30 km sebelah utara kota Palu, adalah seorang Hadrami golongan sayyid yang datang dari Sulawesi Selatan, bernama Sayid Aqil al-Mahdali.[26] Secara geografis, Wani adalah wilayah pantai yang pada saat itu merupakan pusat dan pelabuhan yang terkenal untuk menaikkan dan menurunkan barang dan rempah-rempah. Ini dipilih oleh orang-orang Arab untuk mendukung aktivitas datang mereka. Wilayah Wani dibagi ke dalam dua bagian, Wani I yang merupakan tempat bagi penduduk asli Kaili, dan Wani II yang merupakan tempat bagi pendatang yang sebagian besar dari mereka adalah orang-orang Arab, bahkan sekarang disebut sebagai Kampung Arab atau Malambora.[27]

Di tempat yang baru, keluarga Al-Mahdali langsung berbaur dengan penduduk lokal tanpa ada masalah sama sekali. Ini terjadi karena sebelumnya pernah berasimilasi dengan Wajo, Sulawesi Selatan, sehingga mereka telah familiar dengan lingkungan Wani yang tidak banyak berbeda dari tempat yang mereka pernah menetap. Orang-orang asli setempat menyebut Sayid Agil Al-Mahdali sebagai Puang Natuambulu, yang berarti “Orang Berbulu”. Panggilan ini diberikan masyarakat lokal karena Sayid Aqil Al-Mahdali adalah seorang yang benar-benar besar dan tinggi dengan tubuh yang dipenuhi bulu.[28]

Gelombang kedua kedatangan orang-orang Arab yang masuk ke lembah Palu adalah keluarga Al-Haddad, yaitu Sayid Husen bin Ahmad Al-Haddad dari Sulawesi Selatan, yang datang sekitar akhir abad ke-19. Ia datang bersama isteri dan anak-anaknya. Anak-anak keturunan Al-Haddad ini kemudian menikah dengan keturunan Al-Mahdali.[29]

Semenjak abad ke-20, setiap tahunnya, sejumlah pedagang Arab yang datang ke lembah Palu terus meningkat dan melebihi dari sebelumnya. Di antaranya adalah keluarga Al-Habsyi, Assegaf, Al-Atas, Al-Idrus, Al-Jufri, dan Al-Amri. Mereka masih dianggap sebagai kelompok sayyid, kecuali keluarga Al-Amri, dan sebagian dari mereka saling menikahi. Dalam hal perkawinan, tampak terdapat “sistem kasta” yang berlaku bagi kelompok sayyid dan sharīfah. Bahkan ada yang menikahi puteri-puteri dari raja lokal atau bangsawan-bangsawan lokal. Dan mereka menetap di daerah-daerah isterinya untuk berdagang, menjual barang-barang kebutuhan pokok, atau barter dengan produk pertanian setempat. Mereka juga belajar bahasa-bahasa daerah setempat. Sebagian dari mereka menggabungkan perdagangan dengan dakwah.

Relasi-relasi sosial yang melekat dalam praktik-praktik ini membentuk kekuatan bagi integrasi mereka ke dalam masyarakat asli setelah kemerdekaan. Pada saat yang sama, sebagian Hadrami mempertahankan jaringan-jaringan mereka dengan kelompok Hadrami lainnya di wilayah tersebut dan bahkan di Hadramaut. Ini dicapai terutama melalui perkawinan, seraya memperkuat genealogi patrilineal mereka, seperti mereka menikahkan puteri-puteri mereka dengan laki-laki Hadrami yang lahir di Indonesia atau pendatang baru dari Hadramaut.[30] Apa yang mereka lakukan tersebut adalah karena alasan yang menganggap posisi mereka tinggi karena merupakan keturunan dari Rasulullah Saw. Untuk itu, perempuan-perempuan mereka atau disebut sharīfah tidak dapat menikah dengan selain sayyid, karena dianggap tidak se-kafā’ah. Meskipun demikian, para sayyid dapat menikah dengan perempuan-perempuan yang lokal yang bukan sharīfah.

Karena masih terikat dengan rasa ke-Hadramiannya, maka orang-orang Hadrami, menurut Engseng Ho dalam penelitiannya tentang diaspora Hadrami, disebut sebagai “local cosmopolitans”, sebuah istilah yang mengarah kepada “orang-orang yang terlibat dalam relasi-relasi lokal, namun tetap menjaga hubungan dengan tempat-tempat yang jauh” (persons who, while embedded in local relations, also maintain connections with distant places).[31]

Dalam perkembangan selanjutnya, komunitas Arab Hadrami yang berada di wilayah Palu berkembang pesat dan membentuk dua komunitas yang berbeda tingkatan sosialnya, yaitu komunitas Hadrami non-sayyid yang jumlahnya cukup signifikan, seperti Al-Amri, Al-Kathiri, Bachmid, Balcher, Bajeber, dan lainnya, dan golongan sayyid (sādah, habā’ib), seperti Al-Jufri, Al-Habsyi, dan lainnya, yang perannya cukup signifikan dalam pengembangan pendidikan dan dakwah Islam di Tanah Kaili. Mayoritas dari Arab Hadrami ini dalam mata pencahariannya adalah berdagang, selain tentunya bergelut dalam dunia pendidikan dan dakwah, seperti yang dilakukan oleh keluarga Al-Jufri dan juga Al-Habsyi.

Tradisi Penguat Jaringan Hadrami di Tanah Kaili

Secara sosial, masing-masing komunitas ini membangun dan memperkuat jaringan (network). Fungsi dari jaringan ini adalah bagaimana eksistensi mereka dapat mengalami penguatan dan berpengaruh dalam masyarakat. Beberapa tradisi berikut ini mungkin dapat dianggap sebagai media yang memperkuat jaringan Arab Hadrami.

  •  Haul Guru Tua

Salah satu yang tradisi yang dibangun untuk memperkuat jaringan ini adalah pelaksanaan hawl (haul) Guru Tua, sebutan untuk seorang ulama Hadrami kharismatik yang bernama Sayid Idrus bin Salim Al-Jufri. Kata hawl, yang berarti “tahunan”, dapat diterjemahkan sebagai interaksi publik dalam bentuk ritual praktis dan tulis (teks), karena selain terjadi kontak fisik antara para ‘Alawiyyi>n dengan otoritas lokal yang berakibat kepada kuatnya hierarki otoritatif diaspora ‘Alawiyyīn. Pada sisi lain, juga terjadi kontak antara teks dengan jamaah yang hadir, karena di dalam haul terdapat pembacaan manāqib, kitab maulid, dan bacaan-bacaan lain yang penyusun atau pengarangnya adalah dari para salaf ‘Alawiyīn. Hal ini kemudian menjadi satu transmisi tekstual yang meluas di tengah masyarakat.

.Haul Guru Tua, yang merupakan peristiwa tahunan yang dilakukan di dekat makam beliau demi mengingat perjuangan beliau dalam dakwah dan pendidikan, dilakukan setiap tanggal 12 Syawal, hari wafatnya Guru Tua. Haul ini menarik partisipasi para ulama, kiayi, dan pengikut Alkhairaat (abnaā ‘al-khayrāt) di wilayah Sulawesi Tengah, dan bahkan wilayah-wilayah lainnya di luar Sulawesi Tengah, seperti Kalimantan dan Maluku Utara. Hasilnya adalah perluasan jaringan yang memperkuat otoritas ‘Alawiyyīn di kalangan masyarakat yang lebih luas.

  •  Musik gambus dan tari Jepeng

Tradisi lain yang juga memperkuat jaringan orang-orang Arab di Palu adalah musik gambus dan tari Jepeng. Gambus adalah alat musik petik seperti mandolin yang berasal dari Timur Tengah. Para ilmuan berbeda pendapat terkait dengan asal muasal gambus. Berg[32] memaparkan berbagai perbedaan pendapat tersebut dalam disertasinya. Misalnya, Jaap Kunst mengatakan bahwa ditemukan dua bentuk instrumen yang namanya berasal dari Afrika Timur gabbus di Jawa awal abad ke-20, satu dari Hadrami dan satu dari Hijaz; Christian Poche menghubungkan gambus dengan qanbus Afrika Selata; Curt Sachs
dan Henry Farmer melacak nama gambus dan qanbus kepada qopuz Turki dan bahkan mengatakan bahwa instrumen musik tersebut memperlihatkan pengaruh China dan Portugis. Instrumen gambus yang sering digunakan saat ini hampir menyerupai ‘ud-nya Mesir. Bagaimana pun juga, berbagai macam bentuk gambus dapat ditemukan di Nusantara, membuat semakin sulit untuk menyatakan sejarah asalnya. Meskipun demikian, banyak pengarang sepakat bahwa instrumen tersebut menyebar di Nusantara berbarengan dengan penyebaran Islam.

Di wilayah Palu, orkes gambus ternama adalah Orkes Gambus Yassalam. Pada saat Festival Kampung Baru Fair tanggal 12 Juli 2016, Orkes Gambus ini menampilkan performanya yang  gemilang. Orkes gambus terkadang diiringi atau tidak diiringi oleh tarian jepeng. Jepeng berasal dari sebutan zapin adalah satu kata dalam bahasa Arab, zafn, yang berarti “pergerakan kaki cepat mengikuti rentak pukulan.”[33] Jepeng adalah tarian yang diiringi dengan alunan musik gambus, yang alat musiknya terdiri dari biola, gendang, tabla dan seruling. Tarian jepeng yang diiringi dengan musik gambus diperagakan dalam berbagai kesempatan, dan terutama untuk acara hiburan atau ritual Islam yang berbasis pada syariat agama. Misalnya, ia diperagakan pada acara pernikahan, upacara-upacara resmi, potong rambut bayi atau akikah, tunangan, dan lain-lain. Pagelaran tarian jepeng dan musik gambus mengundang banyak orang yang hadir terutama orang-orang Palu keturunan Arab Hadramaut. Dari sini akan terjalin silaturahmi yang kemudian memperkuat jaringan Arab keturunan Hadramaut.

  •  Lebaran ‘Iwad

Tradisi lainnya yang dibentuk oleh komunitas Arab Hadrami di kota Palu untuk memperkuat jaringan Hadrami adalah lebaran ‘iwad, sebuah tradisi unik saat merayakan Idul Fitri. Kata ‘iwad berasal dari akar kata عـاد yang berarti “kembali”, dengan makna saling mengunjungi dan memberikan salam di setiap rumah. Mereka saling mengunjungi dan bersilaturahmi dari rumah ke rumah sesama warga Arab. Tradisi ini, menurut satu informasi, merupakan peninggalan dari Habib Idrus bin Salim Aljufri, dan tujuannya adalah memfitrahkan diri dan kembali menjadi media bagi seluruh jemaah yang ikut.

Tradisi ini hanya diikuti oleh kaum laki-laki. Menurut satu informasi, tradisi ‘iwad telah berlangsung semenjak puluhan tahun yang lalu, dan bahkan sudah ada semenjak zaman Belanda, dan silaturahmi antara kaum lelaki Muslim Arab dilakukan pada hari kedua Idul Fitri. Keunikan tradisi ini adalah bahwa setibanya di setiap rumah yang dikunjunginya, kaum lelaki melantunkan puji-pujian kepada Nabi Muhammad Saw dan memanjatkan doa bagi pemilik rumah yang disinggahi. Lalu mereka, yang terdiri dari anak-anak sampai orangtua, membaur dengan wajah ceria sambil bersalaman mengikuti berlangsungnya tradisi. Setelah itu, tradisi dilanjutkan dengan perang petasan antarwarga keturunan Arab dan membagi-bagikan uang pecahan lima ribu rupiah hingga pecahan sepuluh ribu rupiah kepada anak-anak yang ikut. Hingga saat ini tradisi Iwad sudah berakar dan diturunkan di pelbagai wilayah di Sulteng. Tidak hanya itu, tradisi ini terus dipertahankan bahkan sudah diikuti juga oleh warga muslim non-Arab.

PENUTUP
Berdasarkan pada uraian di atas dapat disimpulkan bahwa keberadaan orang-orang Arab dapat dikatakan sudah lama, semenjak abad ke-18. Mereka semakin lama semakin berkembang karena jaringan yang mereka bangun dan perkuat. Di antara jaringan tersebut adalah dengan pelaksanaan haul Guru Tua, musik gambus dan tari jepeng yang biasanya diperagakan pada momen-momen tertentu, dan lebaran ‘iwad yang dilakukan pada setiap tanggal 1 Syawal.***


[1] Lihat Kholili Hasib, “Menelusuri Mazhab Walisongo”, Tsaqafah, vol. 11, No. 1 (Mei 2015), 137-150.
[2] Heri Ruslan, “Hadramaut: Tanah Kelahiran Nabi Hud AS” dalam http://m.republika.co.id/ berita/dunia-islam/khazanah/12/03/04/m0cfh8-hadramaut-tanah-kelahiran-nabi-hud-as (akses: 1 Oktober 2016).
[3] Frode F. Jacobsen, Hadrami Arabs in Present-day Indonesia (London & New York: Routledge, 2009), 7.
[4] Ibid.
[5] Abdul Qadir Umar Mauladdawilah, Tarim Kota Pusat Peradaban Islam (Malang: Pustaka Basma, 2013), 78.
[6] Ibid., 8.
[7] Mohammad Redzuan Othman, The Arabs Migration and Its Importance in the Historical Development of the Late Nineteenth and Early Twentieth Century Malaya (Paper presented at the 15th Annual World History Association Conference, 22-25 June 2006 in California, USA)
[8] L. W. C. van den Berg, Hadramaut dan Koloni Arab di Nusantara. Terj. Rahayu Hidayat.(Jakarta: INIS, 1989), 23-24.
[9] Husein Haikal, Indonesia-Arab dalam Pergerakan Kemerdekaan Indonesia (1900-1942)  (Disertasi, Universitas Indonesia, 1986), 76.
[10] Ibid., 91.
[11] Dikutip dalam Hamid Algadri, Islam dan Keturunan Arab dalam Pemberontakan Melawan Belanda. (Bandung: Mizan, 1996), 47.
[12] Ibid.
[13] M. C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern, 1200- 2004 (Jakarta: Penerbit Serambi, 2008), 27.
[14] Berg, Hadramaut.
[15] Jonge, H. de (1997), “Dutch Colonial Policy Pertaining to Hadhrami Immigrants,” in Hadhrami
Traders, Scholars and Statesmen in the Indian Ocean, 1750s–1960s, (ed.) U. Freitag and W. G. Clarence-Smith (Leiden: Brill), 94–111; Khalidi, O. (1997), ‘The Hadhrami Role in the Politics and Society of Colonial India, 1750s to 1950s, in Hadhrami Traders, Scholars and Statesmen in the Indian Ocean, 1750s–1960s, (ed.) U. Freitag and W. G. Clarence-Smith (Leiden: Brill), 67–81; Johann Heiss and Martin Slama, “Genealogical Avenues, Long-Distance Flows and Social Hierarchy Hadramī Migrants in the Indonesian Diaspora,”  Anthropology of the Middle East, Vol. 5, No. 1, Spring 2010: 34–52.
[16] Dikutip dalam Martin Slama, “Marriage as Crisis Revisiting a Major Dispute among Hadhramis in Indonesia”, Cambridge Anthropology, Vol.32, No. 2 (Autumn 2014), 67.
[17] Lihat Omar Khalidi, “Sayyids of Hadhramaut in Early Modern India,” Asian Journal of Social Studies, vol. 32, no. 3 (2004), 329-352.
[18] Haikal, Indonesia-Arab, 65.
[19] Berg, Hadramaut, 80.
[20] Ibid., 72.
[21] M. Habib Mustopo, Kebudayaan Islam di Jawa Timur, Kajian Beberapa Unsur Budaya Masa Peralihan (Yogyakarta: Penerbit Jendela, 2001).
[22] Natalie Mobini-Kesheh, Hadrami Awakening: Community and Identity in the Netherlands East Indies, 1900–1942 (Ithaca/London: Cornell University Press, 1999) ; Martin Slama, “Indonesian Hadhramis and the Hadhramaut: An Old Diaspora and its New Connections,” Antropologi Indonesia, Vol. 29, No. 2, (2005).
[23] A. S. Bujra, “Political Conflict and Stratification in Hadramaut 1,” Middle Eastern Studies, Vol. 3, No. 4 (1967), 356.
[24]  Ibid., 357.
[25] Huub de Jonge, “Abdul Rahman Baswedan and the Emancipation of the Hadramis in Indonesia,” Asian Journal of Social Studies, vol. 32, no. 3 (2004), 391-392.
[26] Nurhayati Nainggolang, Sejarah Daerah Sulawesi Tengah (Jakarta: Depdikbud RI, 1997); Mahid Syakir, et al., Sejarah Sosial Sulawesi Tengah (Yogyakarta: Penerbit Pilar, 2009); Ismail Suardi Wekke, “Arabian Society in Kaili Lands, Central Sulawesi: Arabic Education and its Movement,” Tawarikh: International Journal fo Historical Studies, Vol.7, No. 1 (October 2015), 66.
[27] Nainggolang, Sejarah.
[28] Ibid.; Syakir, et al., Sejarah Sosial.
[29] Nainggolang, Sejarah; Syakir, et al., Sejarah Sosial.
[30] Martin Slama, “Translocal Networks and Globalisation within Indonesia: Exploring the Hadhrami Diaspora from the Archipelago’s North-East,” Asian Journal of Social Science, vol. 39 (2011), 243.
[31] Engseng Ho, The Graves of Tarim: Genealogy and Mobility across the Indian Ocean (Berkeley: The University of California Press, 2006), 31.
[32] Birgit Anna Berg, The Music of Arabs, the Sound of Islam: Hadrami Ethnic and Religious Presence in Indonesia (Disertasi, Department of Music, Brown University, 2007), 59.
[33] Wikipedia, “Tari Zapin” dalam  https://id.m.wikipedia.org/wiki/Tari_Zapin (Akses: 18 Oktober 2016).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *