Pesan Moral Setiap Musibah: Renungan Covid-19

Setiap yang terjadi terhadap diri kita dan di bumi kita menyampaikan pesan-pesan moral (‘ibrah) yang dapat kita pelajari. Dari pelajaran dan peningatan tersebut, kita dapat memperbaiki cara pikir, sikap dan perilaku terhadap sesuatu di dunia ini. Setidaknya ada beberapa pesan moral yang dapat kita petik terkait dengan musibah penyebaran Covid-19 ini.

Pesan moral 1:
Segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini sudah takdirkan oleh Allah, jauh sebelum dunia dan manusia ini diciptakan. Tertulis dengan jelas dalam Surat Al-Hadid ayat 22, Allah swt berfirman:

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا فِىٓ أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِى كِتَٰبٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَآ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ

“Tiada suatu bencana yang terjadi di muka bumi dan  pada diri kalian melainkan telah tercatat dalam Lauh Mahfuz sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.”

Ayat ini mengajak kita untuk berpikir bahwa semua ciptaan-Nya bisa menjadi ancaman bagi makhluk hidup dan lingkungan. Untuk itu, kita diperintahkan untuk senantiasa mencari, mengamati, mengukur dan meneliti potensi ancaman-ancaman yang ada di sekitar kita, dan kemudian mengklasifikasikan mana ancaman-ancaman yang dapat membahayakan bagi kehidupan kita. Dengan demikian, kita menjadi tahu apa yang harus dilakukan untuk menyikapi ancaman di sekitar kita, agar ancaman tersebut tidak berubah menjadi bencana yang menghancurkan.


Pesan moral 2
Ujian ini bukanlah siksa, tetapi peringatan, dan peringatan dapat menjadi sebuah nikmat. Peringatan bahwa manusia itu lemah di hadapan Allah Swt; oleh karena itu, manusia janganlah bersikap angkuh dan sombong. Kita diuji dengan ketaatan untuk melaksanakan tuntunan-tuntunan agama, di antaranya adalah memelihara jiwa dan kesehatan, dan dalam konteks ini, kita diminta untuk meneladani, atau setidaknya, mengikuti arahan mereka yang mempunyai pengetahuan tentang kesehatan dan keselamatan jiwa, dalam hal ini adalah para dokter dan ilmuan medis/kesehatan. (فاسألوا أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون) Agama Islam mendahulukan kemanusiaan atas keberagamaan. Oleh karena itu, fatwa ulama menyatakan bahwa tidak wajib untuk melaksanakan shalat jumat di saat menjamurnya pandemic virus Corona untuk menjaga keselamatan jiwa manusia. Bahkan agama menegaskan bahwa dalam keadaan darurat yang dapat menyebabkan hilangnya nyawa seseorang, yang diharamkan pun menjadi dibolehkan (الضرورات تبيح المحظورات)


Pesan moral 3
Jika musibah terjadi kepada kita, maka tuntunan Islam mengajak kita untuk bersikap sabar. Sabar adalah cahaya, yang menerangi seorang yang berada dalam kegelapan. Kegelapan adalah istilah bagi keadaan gelisah, kesulitan, dan kepanikan. Sabar dapat memunculkan ketenangan, dan ketenangan dapat meningkatkan imunitas tubuh, dan ini penting untuk memerangi Covid-19 untuk diri sendiri. Kita dapat belajar dari kesabaran Nabi Yusuf, yang dibuang ke sumur oleh 10 saudaranya, dijadikan budak, dipenjara, namun tetap tabah dan sabar. Buah dari kesabaran tersebut adalah kedudukan yang tinggi dan terhormat di sisi manusia dan Allah swt. Menjadi Menteri Perbendaharaan Negara Mesir. Beliau mengatakan, yang perkatannya direkam oleh Allah dalam Surat Yusuf: 90

إِنَّهُ مَن يَتَّقِ وَيَصْبِرْ فَإِنَّ اللَّـهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

“Sesungguhnya siapa pun yang bertakwa dan bersabar, Allah pasti tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang baik.”


Pesan Moral 4
Di balik segala musibah yang terjadi pasti ada hikmah. Salah satu hikmah terbesar dari musibah Covid ini ini adalah kesadaran terhadap kebersihan. Dan inilah jantung dari Idul Fitri, kembali kepada fitrah. Kata fitrah melekat padanya dua sifat: suci dan indah. Suci dan indah ini adalah sifat Allah, dan kita diperintahkan oleh Nabi untuk meneladani sifat Allah ini. (تخلقوا بأخلاق الله)

Bagaimana caranya? Dengan selalu menyucikan dan memperindah diri kita. Menyucikan fisik dari kotoran-kotoran yang dapat membahayakan kesehatan kita. Nabi pernah mengatakan, إن الله نظيف يحب النظافة (Allah itu bersih dan menyukai kebersihan).

Namun yang terpenting adalah kesucian dan keindahan hati. Mengapa harus hati? Karena hati ibarat mesin yang menggerakkan mobil. Jika mesin tidak bagus, maka mobil akan mogok dan tidak akan berjalan dengan baik. Bagus tidaknya sikap dan perbuatan manusia tergantung sejauh mana hati ini terkondisikan. Jika hati bagus, yang memancar dari diri kita adalah kebaikan dan keindahan. Itulah yang terlihat pada setiap pikiran, perkataan, dan perbuatan, yang muncul dari Rasulullah Saw.

Suatu ketika, Nabi dicegat oleh seorang pandir Quraysh di tengah jalan, lalu orang tersebut menyiramkan tanah ke atas kepala Nabi. Nabi Muhammad diam menahan pedih. Tahukah apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad? Apakah ia membalas? Tidak. Beliau malah pulang ke rumah dengan tanah yang masih menempel di kepala. Fatimah, puterinya, kemudian datang mencucikan tanah di kepala ayahnya itu. Ia membersihkannya sambil menangis. Tidak ada yang lebih pilu rasanya dalam hati seorang ayah daripada mendengar tangis sang anak, lebih-lebih anak perempuan. Setitik air mata kesedihan yang mengalir dari kelopak mata seorang puteri terdapat sepercik api yang membakar jantung. Nabi pun tak kuasa menahan getir, lalu menangis tersedu-sedu di sisi sang puteri. Juga, secercah duka hati adalah rintihan jiwa yang terasa mencekik leher, dan hampir pula menyuluti emosi Nabi untuk membalas. Tetapi, Nabi adalah seorang yang sabar dan pemaaf. Apakah yang Nabi lakukan dengan tangis puterinya yang baru saja kehilangan sang ibu tercinta itu? Nabi Muhammad hanya mampu menghadapkan jiwanya kepada Allah, seraya memohon dikuatkan batinnya untuk menerima perlakuan keji itu. “Jangan menangis anakku!” ucap Nabi kepada puterinya yang sedang berlinang air mata itu, “Tuhan akan melindungi ayahmu.”

Begitulah cara Nabi Muhammad menolak kejahatan dengan kebaikan. Itulah moralitas agama. Sesungguhnya moralitas agama yang paling mengesankan dalam hidup manusia adalah “menolak kejahatan dengan kebaikan,” sebagaimana telah diperlihatkan dengan sangat indah oleh Baginda Nabi Muhammad Saw.***

Kunjungi juga https://bangrusli.id/2020/06/14/pesan-moral-setiap-musibah-renungan-covid-19/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *